Langsung ke konten utama

Cerita Seks Fiksi – Bidadari di Tengah Pelangi (Pevita Pearce, Cut Tari dan Vino G. Bastian)


Maaf gan kalo cerita panas berikut bakal panjang lebar kayak novel..hehe. cerita ngentotin artis cantik dan seksi Pevita Pearce & Cut Tari. cekidot:
Kenalin aku Vino G. Bastian, anak dari
penulis cerita silat Wiro Sableng, Bastian Tito. Kali ini akau akan
menceritakan pengalamanku semasa SMA, mungkin cerita ini ga
sespektakuler cerita karya Andrea Hirata dengan laskar pelanginya atau
ayat ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Dimana kisah para
penulis tersebut dapat difilmkan dan menjadi top film indonesia. PEVITA PEARCE
15 September 2012

to : Sayang
isi : aku sayang banget sama kamu, sekarang dan nanti. Love you Vit :*
grrr grrr grrr. Hp ku bergetar
from : Sayang
isi : iya aku juga sayang sama kamu vino .
5 bulan sebelumnya 6 April 2012
2 tahun aku jomblo, bukan karena aku homo atau berperilaku seks
menyimpang, terus terang saat ini aku sedang menekuni dunia fotografi
yang aku geluti 2 tahun belakangan ini. entah kenapa di dalam suatu
blitz dan lensa ada sesuatu yang menarik perhatianku, membuatku lebih
tenang, rileks dan enjoy. Sama seperti ayahku tertarik dengan pulpen dan
lembaran kertas.
Saat ini aku tergabung dengan photo up. Suatu ekstrakurikuler untuk
menyalurkan hobi menjepret kamera di sekolahku. Semenjak aku menginjak
kelas 2, aku semakin menekuni dunia ini, bukan kerena faktor komersil
atau dikelilingi model model cantik seperti kebanyakan fotografer. Ini
murni karena aku ingin menyalurkan minatku, apalagi jika hasil
jepretan-jepretanku dapat menuai pujian serta kritik dari seseorang.
Lebih dari materi yang kudapatkan, aku memperoleh kepuasan.
Seringkali foto fotoku dimuat di mading sekolah, tapi namanya anak SMA
lebih suka melihat foto Sora Aoi daripada foto keindahan alam yang
kusentuh dengan sedikit editan. Jadi hanya sedikit para siswa yang
sengaja melihat fotoku.
Minggu ini beberapa fotoku terpilih oleh pembimbing photo up untuk
mejeng di mading sekolah. Foto burung Lovebird yang sedang kontes
terpilih untuk kutempel.
Sehabis pulang sekolah, aku menuju ke mading sekolah yang berada di
dekat pintu gerbang untuk memajang hasil jeperetan kameraku. Setelah
menempel foto, tiba tiba ada cewek yang berlari kecil sambil memanggil
ke arahku.
“Kakak kakak,” panggilnya.
“Aku ?” tanyaku, sambil menunjuk diriku.
“Iya, kak Vino kan?”
“Iya, ada apa ya?” tanyaku heran.
“Kakak yang suka foto-foto itu kan ?”
“Iya, ada apa sih ?” Aku semakin kebingungan.
“Itu tuh, temenku pengen kenalan,” sambil menunjuk temannya yang berada di atas motor di depan pintu gerbang.
“Kok ga turun ?”
“Malu kali kak, hehehe.”
“Sini ta, katanya pengen kenalan,” lambainya pada cewek yang satu.
Akhirnya si cewek tersebut turun. Cewek semi blasteran berambut
gelombang semi pirang, bertubuh proporsional, memakai rok sedikit di
atas lutut. Kulihat di nametagnya PEVITA PEARCE. Sambil menunduk malu
dia menjulurkan tangan.
“Vita .”
“Vino… ” balesku
“Eh aku balik dulu ya” sela si cewek satunya pergi yang terakhir kuketahui namanya adalah Nikita.
“Tadi emang bener mau kenalan sama aku?” aku memulai pembicaraaan.
“Eh eng .. gaaa, eh iyaaa ding, tau tuh si Niki rese” tunjuknya ke belakang ke arah Niki pergi. Mukanya yang imut, memerah seiring tingkah lakunya yang kaku dan salah tingkah.
“Kelas berapa ?” tanyaku lagi.
“Aku X3 kak. ” jawabnya singkat.
“Ooohh.” Jawabku dingin, aku bingung, ga tau cara mendekati wanita.
Kami terdiam sesaat. Hening, tak tau apa yang mau di bicarakan. “Kakak ikut photo up ya ?” tanyanya memecah keheningan.
“Iya, kamu ikut juga?”
“Ah engga, aku cuman seneng liat foto-foto kakak aja” katanya sambil menunduk malu.
“Liat foto fotoku apa liat fotoku” sambil memberi penekanan pada kata terakhir.
“Ah apaan sih, kak” jawabnya sambil senyum sembari menunduk.
Damn ! mukanya semakin memerah. Duh manisnya, mungkin seperti ini wajah
sinta dalam pewayangan, Nyai Dasima dari Kemayoran. Hmm sempurna! “Eh, kapan kapan mau hunting foto bareng sama aku?” mencoba untuk menyepik
“Ah, emang kapan kak ?”tanyanya memastikan.
“Ntar aku kabarin lagi deh”jawabku ngasal
“Iyaa, ntar di kabarin aja kak”
“Oh iya, aku minta nomer yang bisa dihubungin dong?”
“Eh Pin BB aja ya, soalnya aku jarang ada pulsa. hihihi” cengirnya.
“Boleh boleh, kebetulan juga paket BB ku juga lagi aktif. hehe”
“Ini kak, 22BACCxx”
“Sip oke deh Vit, aku balik dulu ya. byee,” jalanku menuju parkiran motor.
Jalanku menuju ke rumah mantap seolah dijanjikan masa depan cerah.
Membayang kan berdiri di samping gadis manis berparas anggun. Vita.
Ya dan mulai saat itu aku sering BBMan, telfonan. Di sekolah aku juga
udah bersikap biasa dengan dia. Bahkan kami mulai sering ngobrol berdua,
di kantin atau ketemuan di dekat mading sekolah pas aku memasang foto.
Seminggu setelah kejadian itu, aku janji ketemuan di deket mading sehabis pulang sekolah.
“Vita sini” panggilku melihat dia celingak-celinguk mencariku
“Oh rupanya disini toh, aku cariin juga kak.” Sedikit kesal rupanya dia setelah mencariku.
“Hahahaha,” aku hanya tertawa melihat dia sedikit memnyunkan muka.
“Emang kenapa kak, nyuruh aku kesini?”
“Mmhh, nanti malem ada acara ngga?”
“Kenapaa?” jawabnya menunduk malu seolah mengerti maksud pertanyaaanku
“Jalan yuk?” ajakku.
“Hah? Kemana emang kak?”
“Mau tau banget apa mau tau aja ? hahhaha”
“Ihhhh kakak nyebelin.” sambil berusaha mencubitku
“Yaudah pokoknya nanti malem jam 7 aku tunggu di parkiran Ramayana ya? byee” salamku ke Pevita.
Malam itu, kaos Damn I Love Indonesia, dipadu dengan jeans skinny Peter
Says Denim, tak lupa parfum Bvlgari mengiringi langkahku bersama Piaggio
LX 150. Maklum sudah terlalu lama engga jalan sama wanita, jadi ku
maksimalkan dandananku.
Sesampainya di parkiran mall, aku parkirkan motorku, menunggu Vita,
selama itu aku menghisap A Mildku, tak sampai 10 menit dia datang
menaiki varionya.
“Motornya parkirin sini aja vit, kita jalan ke luar yuk ?” ajakku.
“Mau kemana lagi sih kak ?” tanyanya sambil malu-malu.
“Udah ikut aja, muter-muter aja kok.” Sesaat setelah Vita membonceng, ku lajukan motorku keliling kota, di
jalan kita bercanda canda, tertawa persis seperti Donita dan Marchel
Candrawinata di film Pupus ketika scene di pasar malam.
Beribu cahaya bintang tak mampu menerangi jiwaku yang gulita selain pesonamu
Berhentilah skuterku ke tukang nasi goreng gila di pinggir taman kota.
Aku pesan 2 nasi goreng pedas, bersama pasangannya, teh botol Sosro.
Kita ngobrol soal kesibukan masing-masing. Saling bertukar cerita,
diselingi candaan ringan. Kebahagiaan kami terus berlarut sampai
akhirnya waktu yang membunuh segalanya.
“Kak, pulang yuk ? Udah jam 10 nih” kata kata Vita menyadarkanku akan waktu yang telah larut.
“Oh iya, lupa ntar mallnya keburu tutup ya, kan motornya di taruh di parkiran mall”
“Iya, aku takutnya juga itu kak”jawabnya sedikit cemas.
“Yaudah yuk buruan dihabisin minumnya” kataku sambil menunjuk teh botol yang baru diminum sedikit.
Laju motorku, kupacu ke mall, mall sudah sepi, tapi beruntung mallnya belum tutup. Kuantar Vita mengambil motor ke basement.
“Kak aku pulang yaa? dadaaa” kata Vita sambil melambaikan tangannya.
“Iya, ati ati Vita yaaa, salam buat keluarga. hehehe”
Hari hari kulalui dengan ceria, canda dan tawa mengiringi kebahagiaan
kami. Sebulan sudah aku kenal dengan Vita. Dia mewarnai hari hariku
sebulan terkhir, menggantikan posisi kekasih lama Canon EOS 600D. Beda
dengan kameraku yang menunggu sentilan jariku untuk mengambil gambar
pada moment yang tepat, Pevita Pearce, dia terlihat selalu cantik dan
tepat di jepretan mata dan memory otakku.
24 Mei 2012
Siang itu, jam istirahat aku telah janjian dengan Vita di kantin
sekolah. Sudah sebulan lebih aku kenal dengan Vita. Dan selama itu aku
merasakan kenyamanan di dekatnya. jadi siang ini kuputuskan untuk
menembak dia. sebenernya ingin menunggu tanggal 8 Juli, tepat hari ulang
tahunnya, tapi rasanya terlalu lama jika harus menunggu. Aku takut
untuk menunggu waktu tersebut, aku tau Vita juga pasti bingung dengan
hubungan kita saat ini. Aku ga mau menyianyiakan kesempatan yang belum
tentu datang lagi.
‘Wanita memang suka coklat dan bunga, tapi wanita lebih suka kepastian’ begitu kata Sudjiwo Tedjo.
To : Pevita
Isi : dimana Vit ? aku udah di kantin budhe
Tak lama kemudian, grrr grrr grrrr, hp ku bergetar
From : Pevita
Isi : iya ini lagi jalan ke kantin kak.
“Vita siniii” teriakku sambil melambai kepada Vita
“Iya, kenapa kak?” tanyanya sambil mendudukkan pantatnya ke bangku depanku.
“Aku boleh ngomong engga Vit?” tanyaku sambil berharap harap cemas.
“GA BOLEH”
“Yaaahh” kataku sambil menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Ya bolehlah kaaaaaaak, masa mau ngomong ga boleh sih” jawabnya sambil sedikit tersenyum
“Hehehehe, iyaaa”
“Mau ngomong apa sih? Jangan ngomong mau nembak aku. hahahaha”
Ha? kok dia tau ya? ah terus bagaimana kalau udah di skak mate gini? Tapi kepalang tanggung lah, biar basah sekalian saja. “Haha. emang, selama sebulan lebih kita udah kenal, sering BBMan, SMSan,
telfonan sampe berjam jam. Pergi jalan, gila gilaan bersama. Aku ngrasa
mulai cocok dan nyaman sama kamu Vit,” ungkapku sambil memgang
tangannya.
“Ha?” dia melongo seakan tak percaya apa yang barusan kukatakan.
“Mau ngga kamu jadi pacar aku Pevita Pearce?” tanyaku penuh harap.
Hening . . . . sunyi. . . . . seakan gurau tawa siswa siswi lain tak terdengar lagi.
Lalu dia jawab. “ENGGAK !”
“Ha? ” Aku melongo, perkiraanku meleset ! Anjing !
“ENGGA BISA NOLAK KAMUUUU!!!” katanya sambil tersenyum bahagia.
Ini moment paling berharga selama 2 tahun, karena selama ini aku seolah
menerima kutukan dari Tuhan menjadi jomblo abadi. Saat itu juga kontak
hp yang semula bertuliskan ‘Pevita’ langsung ku ubah menjadi ‘Sayang’,
status facebook yang semula ‘single’ menjadi ‘engaged’. BB yang tadinya
buat BBMan kalo pas paket aktif, sekarang udah bisa dipake telfonan
berjam jam. Tiba tiba seperti ada yang menghiasi hidupku dengan berbagai
spektrum warna yang tak terbayang indahnya.
Pevita Pearce, dirimu bagaikan pelangi yang
mengartikan cerahnya dunia setelah masa kelam yang teramat lama
menggelayut di jiwaku.

Sky is blue and so are weCan you feel it, see it Love is full all around us
Can you feel it, see it
Call my name ( don’t ever doubt us , I’m here with you)
Feel the pain
Everyday is the best day for usCan you feel the atmosphere
Everyday is the best day for us
To say I need you
I have to tell you my love is so true
Make me so blue
All so brand new

7 Juli 2012 Besok adalah hari ulang tahunnya. Selama kita jadian suka duka sudah
kita lewati bersama, dari yang bercanda-canda di sekolah, jalan-jalan ke
mall, makan di nasi goreng, saling cemburu, sampe berantem di kantin
sekolah. Ya begitulah namanya orang berpacaran. Tidak selalu jalan yang
kita lalui itu lurus. Rencanannya nanti malem tepat pergantian hari aku
akan mengajak Vita keluar, melihat bintang, mengucapkan ‘Happy Birthday’
sambil memberi hadiah sekedarnya.
Sepulang sekolah, aku langsung pulang. Pikirku nanti saja lah aku BBM
buat ngajakin dia jalan. Soalnya kalo ketemu langsung pasti ribet, dia
kebanyakan nanya. Kucari kontak yang bernama Pevita Pearce, lalu ku chat
.
• Nanti malem keluar yuk sayang?
• Kemana ? kayanya ga bisa deh.
• Yaaaaah ? emangnya kenapa ?
• nanti malem mau keluar sama keluarga. Next time aja yah sayang? Gpp kan?
• Yaaah, yaudah deh gpp.
• Besok ajaa ya ketemunyaaaa cayaaaaaaang? Jangan cembeyut yaah?
• Oke deh.
• Sampai besok sayaaaang pinoooo. Muaaaaahhhhh .
• Iyaa sayaaaang
Jujur, saat itu aku diselimuti rasa kecewa yang luar biasa,
bayangkan, bagaimana tidak, rencana yang aku persiapkan secara matang,
ternyata mentah di tengah jalan. Sumpah seharian itu moodku menjadi
berubah, males ngapa-ngapain, bahkan untuk keluar kamar saja ogah
ogahan. Lalu aku tertidur, sampai malam harinya. Aku bangun sekitar pukul 10 malam. Dengan masih terkantuk-kantuk, aku
berusaha membuka mata, melihat BBku, wihh, 14 panggilan tak terjawab
yang semuanya dari Vita. Dan puluhan chat BBM dari Vita yang dari sore
belum kubalas karena ketiduran. Tiba tiba muncul ide jahilku untuk
memberi kejutan padanya, sekalian saja aku kerjain pada nanti jam 12
pas.
11.59PM jam di BBku, ku coba untuk menelfon Vita.
Tuuuut…. tuuuuut…. tuuuutt….
“Halo ? daritadi kamu kemana aja sih? Di telfonin juga. Aku takut tau. Kalo gamau diperhatiin yaudah, nyebelin deh” cerocos Vita
“Surprise selamat ulang taun ya Sayaaaaaang. hehehe”.
“Aaaaaaahhh nyebeliiiiiinnnnnnnnnn,” teriak Vita gemas.
“Hahaha, jangan marah marah dulu dong sayang,”kataku mencoba menjelaskan.
“Ya aku kira kamu yang marah, gara-gara tadi kamu ngajakin jalan tapi aku ga bisa. Huh!” dengusnya.
“Engga kok, aku sengaja nyiapin sureprise buat kamu. Hehehe.
“Ga lucuuuuuuu tauk ! ih.”
“Hahahaha” aku tertawa mendengar kata omelannya.
Lalu obrolan itu akhirnya bersambung sampai berjam-jam. Tak terasa mata
pun sudah kembali menggelayut. Lalu kita pun menyudahi pembicaraan non
formal kita.
8 Juli 2013
Setelah selesai mandi, aku pun mengenakan seragam, rasanya masih ngantuk
telfonan dengan Vita sampai berlarut-larut. Ku check BBku ada 1 sms.
From : Sayang
Isi : Sayang, kamu bisa kerumahku ga? Aku capek banget lagi males
sekolah, orang rumah juga pada sepi, pada pergi. Sorry sayang paket BBku
abis, bales sms aja ya.
To : Sayang
Isi : iyaa, rumah kamu dimana? Kan aku belum pernah ke rumah kamu.
Tidak sampai 5 menit, Bbku kembali bergetar
From : sayang
Isi : deket sekolah kok, depan sekolah ada gang, masuk aja terus ntar kanan jalan sekitar 500meter ada rumah pagar hitam.
To : sayang
Isi : oke, im coming honey ^^ see you bebh
From : sayang
Isi : miss you bebh, im waiting you
Oh iyaa, mawar merah dan jam tangan Fossil sebagai hadiah ulang
taunnya tak lupa aku bawa, harganya lumayan si untuk ukuran anak
sepertiku. Duit hasil menabung ludes kupakai untuk membeli jam tangan
ini. Uang hasil tabungan ku semenjak pacaran memang kupakai untuk
membelikan kado spesial buat Vita. Cinta sejati memang mahal harganya
Sesampainya di rumah Vita, aku mengetuk pintu,
tok tok tok
“Vitaaa Vitaaaa,” panggilku seperti anak kecil yang mengajak main temannya.
“Iya sebentar,” jawabnya dari dalam rumah.
Aih gadis lucu dengan rambut pirang yang digerai, terlihat
manyunggingkian bibirnya menyambut kedatanganku. Baby doll putih
menemaninya menambah kesan lucu dan seksi pada dirinya.
“Ayo sini masuk sayaaaang” ajak Vita
“Eh i.. iyaaa” jawabku, sambil tertegun melihat dirinya.
“Apaan itu di tangan kamu?”tanyanya ketika melihat mawar yang aku pegang.
“Ini, ada bunga buat kamu”
“Ihh makasih yaaaah, lho ini apa Sayang ?” sambil melihat heran jam tangan Fossil yang masih disertai tempatnya.
“Tau tuh beli bunga di kasih itu tuh. Hehe,” aku berkilah.
“Ah boong iih, jam ini kan mahaaaaal terus susah lagi dapetinnya,” balasnya dengan manyun.
“Iya, sesusah ngedapetin hati kamu” jawabku sok romantis.
“Udah berapa cewek yang udah kamu gombalin dengan kata kata kaya gitu?” sindirnya.
“Cuman kamu seorang tuan putri. Hahaha”
“Boong bangeeeeeeet,” katanya sambil mencubit perutku.
“Eh orang rumah pada kemana?” tanyaku melihat kekosongan rumahnya.
“Pada pergi ke rumah pakdhe, sepupu aku ada yang mau nikahan, jadinya pada kesana buat bantu bantu seserahan gitu”
“Ooohhh,” aku mengerti.
“Duduk dulu gih sayaang,” dia mempersilahkan.
Lalu kami duduk berdua di ruang tamu, ngobrol santai, bercanda sambil
cubit cubitan layaknya orang kasmaran. Tebak tebakan, ngomongin film,
musik dan yang lain, tak terasa hampir 2 jam kita bercanda, tanpa di
sangka tubuhku langsung di peluk sama Pevita. kusambut pelukannya.
“Terima kasih sayaaaaaaaang yang udah nemenin hari hariku, yang udah
ngasih surprise spesial buat aku, muaaaaaaaah ” dia mengecupkan bibir
seksinya.
Pelukannya makin erat seiring rasa sayang yang semakin mendalam, kita
berdua sama sama saling menghayati, mencoba mendalami rasa sayang dan
cinta yang bersemi diantara kita berdua. Lalu tiba-tiba dia mendongak ke
atas melihatku, pandangan yang sayu dan sendu seakan berkata, “Aku
milikmu sayaaaaang, hari ini jadikan aku wanita seutuhnya”.
Tanpa berpikir dua kali aku langsung menciumnya. Dan dia membalas ciumanku aku tak mau kalah, aku melumat habis bibir seksinya.
“Mmmhhhh . . . . . . .” erangnya tak jelas.
Tangannya mengusap punggungku, akupun balik mengusap punggungnya.
Tanganku menyelusup ke dalam baby doll putihnya. Mencoba mencari muara
dimana kenikmatan ini akan dimulai, segenggam payudara mengkal yang baru
mekar menyambut gapaian tanganku. Kutelusuri tali penyangga payudara
tersebut sampai ke pungung, dan ‘srrt’ terlepas lah BH yang dikenakan
Pevita. Aku angkat kaos yang masih melekat di tubuhnya, hanya beberapa detik
baby doll, dan BH putih sudah kabur dari tempatnya. Tanpa menunggu lama,
aku pun melupakan bibir seksinya tadi. langsung kuserbu payudara
tersebut. Kulumat dan kuremas habis, sungguh kenyal, sangat padat. Ku
remas lembut, kiri dan kanan. Ku plintir putingnya yangg berwarna merah
itu, tampak Pevita seperti menahan sesuatu ,
“Enak sayaaaaang? ” tanyaku.
” Heem ” wajahnya yang memerah seolah memerintahku untuk melanjutkan lumatanku pada payudaranya.
Kembali ku mulai aksiku, ku remas kembali bukit kembarnya, ku plintir plintir putingnya.
” Auuhhhh ahhh ah, terus sayaaaaaang ” dia melenguh merasakan nikmat yg kuberikan, kurasakan semakin keras dan besar putingnya .
“Iya sayang, disitu ahhh ” rintihnya lagi ,
Aku berusaha membuka celana yang di pakainya. Langsung kutarik sekaligus
celana dalam hitamnya. Terpampang sebuah perut yang rata, dimana di
bawahnya terdapat gundukan bukit putih yang indah yang baru ditumbuhi
rambut halus.
Tidak menunggu lama ku elus vagina itu, Pevita mengerang dan melenguh,
saat kuraba vagina tersebut, hangat dan basah. Ku ikuti naluriku , ku
kocok kocok vaginanya, semakin basah !
ku elus lagi vaginanya, lalu kuraba terdapat daging kecil di atas labia mayoranya.
kudapatkan klitorisnya, lalu aku gosok, sesekali aku cubit pelan.
” Awwh ah terus sayaaaaaaang. Mmmmhhhhhhhhh. Aaaaaahhhhhhhhhhhh”
Pevita melenguh keras sekali! Beruntung rumah yang kosong dapat
memberiku keleluasaan baginya untuk menjerit. Kuberi jeda buat dia untuk
beristirahat.
Aku yang masih mengenakan pakaian lengkap, mulai membuka pakaianku,
hanya celana dalam yang kusisakan, aku tak mau harus membukanya sendiri.
Aku mau dia yang membukakannya, kucium lagi bibirnya.
“Mmhhhh …..” dia belum membalas. begitu aku masukkan lidahku ke
mulutnya, langsung dia melumat habis bibirku, membalas ciumanku.
ciumanku turun ke lehernya, belakang telinga.
“Hmmmm, teruuus sayaaaaang”
“Enak sayang?”
“Iya disitu sayaaaaaang,” lenguhnya ketika aku memulai menelusuri payudaranya.
Entah disadari atau tidak, pelan pelan dia menyusupkan tangannya ke celana dalamku.
Secepat kilat celana dalamku sudah berada di mata kaki.
Perlahan dia turun mulai menciumi leher dan dadaku.
Sedikit menggigit putingku.
“Adduuuuuuuuuhhhhhhh ….” ceracauku
“Slepp” penisku langsung ditelan dimulutnya.
Kutata rambutnya, kupegang dengan tangan. kutarik sedikit rambutnya kebelakang.
Aku ingin melihat wajahnya saat melahap penisku. Manis, cantik, pipinya
yang mengembung menerima sodokan penisku menambah imut wajah sang
pelangi.
“Lama ih sayang keluarnya,” protesnya sambil melepas kulumannya pada penisku.
“Iya ni, ga tau, rasanya enak banget tapi ga mau keluar,” jawabku ngasal.
Aku langsung duduk bersender pada kursi tamu. mungkin diapun ngerti apa
yang kumaksud. langsung dia berdiri, jongkok dihadapanku, dielusnya
sebentar kepala penisku, lalu diarahkan ke vaginanya.
“Iisssssshhh….” desahnya saat penisku mulai mendesak vaginanya.
“Hhmmmmm..” didiamkannya sebentar di vaginanya. Lalu digoyangkannya pantatnya maju mundur.
“Enaaaaaakk sayaaaaaang ?” tanyanya.
“Heeeeeem, lebih cepaaaat sayang.” perintahku sambil meremas pantat semoknya.
“Iyaaa teruuusss, baguuuusssss…” tambahku.
Lima menit kemudian aku minta untuk rubah gaya.
“Lepas dulu bentar sayaaaang.” pintaku
“Se.. sebentaaaar, aku mau keluaaaaaar”
“Aaaahhhhhhhh, isssssssshhhhhhh” desahnya seiring kontolku dibasahi oleh cairan cintanya.
Tanpa menunggu lama aku menaruh dia di pinggiran meja, dengan tengkurap,
kaki terjuntai kebawah, aku berusaha membuka kakinya. Kusorongkan
kontolku tepat di vaginanya.
“Aduuuuuh, pelan dikit sayang, masih ngiluuuu,” protesnya.
“Ssshhhhhh, ahhh ahhh ahhh…” kupompa penisku maju mundur tak menghiraukan protesnya.
Setelah berapa lama, aku merasakan akan ada yang keluar dari dalam tubuhku.
“A.. aku pengen keluar saaaaaaa…..” jeritku tertahan.
“Aku keluaaaaaaaaaaaarrrrrrr lagiiiii” dia mendahului orgasmeku .
Dia menarik diri dengan maju ke tengah meja. Aku kaget, serasa mati gaya. tapi tiba tiba.
“Cepet sini keluarin di mulut aja,” seketika itu dia langsung mengulum penisku.
Hanya dengan beberapa kuluman aku pun sampai pada klimaks.
“Aaaahhhhhh, “ beberapa semprotan membasahi bibirnya, dia menyimpannya sesaat sebelum mengeluarkan penis dari mulutnya.
Diambilnya celana dalamku, lalu ditumpahkannya spermaku di celana
dalamku. akupun duduk di kursi tamu masih dengan tubuhku yang telanjang,
sesaaat setelah membersihkan mulutnya serta vaginanya yang sedikit
telah mengering dengan tissue. Lalu dia menyandarkan tubuhnya di sisiku,
meletakkan kepalanya di dadaku.
Lalu kami menghabiskan hari itu, dengan mencoba berbagai gaya, berbagai
posisi dan berbagai pose. Alangkah indahnya jika ini di abadikan dengan
Canon EOS 600D ku. Uhh, lelah rasanya hari ini.
“Eh makan dulu yuk sayang?” ajak Pevita.
“Makan dimana emang?” tanyaku
“Di rumah ada ayam sama sosis tuh.”
“Sosis yang mana nih? Aku juga punya sosis loh. hehe” sambil melirik ke bawah.
“Ih, sayang bokeeeeep banget.”
“Hahahahhahaha” tawa kami menghiasi seisi rumah.
Selesai acara masak memasak bareng, Pevita menaruh lauk di meja makan,
dan mengambilkanku nasi, duh calon ibu rumah tangga yang baik. “Pintar
melayani pacar, lahiriah maupun batiniyah.” batinku.

TARI AMINAH ANASYA

Agustus 2012 Hari hari telah berlalu, semakin panjang umur suatu hubungan pasti akan
semakin banyak masalah, begitu juga dengan kami. Lambat laun hubungan
kami semakin monoton dan cenderung membosankan. Jujur aku merasa jenuh,
ingin aku mengakhiri hubungan ini, tapi rasa sayang yang teramat sangat
tidak mengizinkan aku mengucapkan kata ‘putus’.
Benar kata orang, cinta seperti itu permen karet, hanya diawalnya doang yang manis
Siang itu sepulang sekolah aku jalan-jalan ke Gramedia untuk sekedar
melihat lihat buku tentang fotografi. Aku udah izin ke Vita untuk
melihat-lihat buku di Gramedia, aku izin agar aku tidak dicari dan aku
juga tidak ingin diganggu sewaktu mencari cari buku. Tapi sewaktu
melihat buku pandanganku teralih oleh sesosok perempuan yang sedang
membaca teenllite Fairish yang sedang grand launch beberapa minggu lalu,
aku merasa familiar dengan wajahnya. Ya, dia mantan kakak kelasku
semasa SMA dulu, siapa yang tidak kenal dengan dia. TARI AMINAH ANASYA,
atau biasa di sapa CUT TARI wanita seksi yang menjadi buah bibir satu
sekolah akan kemolekan parasnya dan
keseksian tubuhnya.
Aku memberanikan diri menghampirinya, sesaat sebelum aku sampai di
depannya. Dia menoleh kearahku. Deg! jantungku seolah berhenti berdetak
melihat tatapan tajam dipadu muka yang binal. ’Tanggung ah, nekat aja’
batinku.
“Kak Tari ya?” tanyaku memberanikan diri.
“Eh maaf, siapa ya?” dia balik tanya.
“Aku Vino kak, aku dulu adik kelasmu pas SMA, aku ikut ekskul photo up”
“Yang mana ya? Aku masih belum inget, hehe. Maaf yaa.” jawabnya sambil tersenyum.
“Dulu yang pernah fotoin kakak buat cover majalah tahunan angkatan kakak” aku menjelaskan agar bisa mengulang memory ingatannya.
“Oh iyaaaa , aku inget, hahaha, eh tapi ngapain kamu di sini? Siapa tadi nama kamu?”
“Vino kak” aku mengulang sekali lagi namaku.
“Oh iya Vino.”
“Aku lagi baca baca buku tentang fotografi kak. Kakak lagi ngapain disini?”
“Niatnya sih mau cari buku tentang hukum gitu, tapi liat teenlite ini
jadi kepengin baca deh. hehe” jelasnya ramah, sambil tersenyum kecil.
“Oooh, sekarang kuliah apa kerja kak?” tanyaku kepo.
“Aku kuliah tapi sambil kerja sih, kamu kelas 3 ya sekarang?”
“Iya kak aku kelas 3, aku juga pengen sambil kerja sih sebenernya, tapi bingung mau kerja apa kak.”
“Ya yang part time apa event-event gitu, aku juga kaya gitu kok kerjaanku” dia memberi masukan kepadaku.
“Lho, emang kakak kerja apa?”
“Aku jadi fotomodel gitu, ya itung itung buat beli buku deh, lumayan kok fee nya, hehe,” jelasnya.
“Ooohhh gitu,” jawabku sembari manggut-manggut.
“Iya, tapi ya gitu, kadang harus ada sesi di luar kota, di gunung, atau
di mana gitu yang tempatnya jauh, tapi ya udahlah namanya kerja juga
profesional, hehe”
“Kenapa gak ngambil yang di studio aja kak take gambarnya?”
“Kadang juga di studio kok, kalo yang di studio tu biasanya dari majalah Popular kalo ga ya FHM gitu”
“Hah?” sontak aku terkejut mendengar kedua majalah tersebut. Aku tau pasti isi dari majalah tersebut.
“Kenapa? Kaget ya aku bilang gitu?”
“Engg.. Enggaak nyangka aja kak. hehe”
“Tadinya si aku juga ga mau, tapi dalam bekerja kan harus profesional
daaaan…fee nya gede lho. hahahaha” ucapnya berbisik ketika mengucapkan
kata ‘fee’.
“Haha. iya emang bener kok feenya gede katanya, aku juga tau dari temanku sesama fotografer”.
Akhirnya obrolan tersebut lanjut sampai kami turun ke bawah, beranjak hendak
meninggalkaan Gramedia.
“Eh naik apa kak?” aku bertanya sekedar basa basi.
“Naik taksi kok, mau langsung pulang ni, udah sore juga.”
“Mau aku anterin?” aku menawarkan diri
“Ah nggak usah, nanti ngrepotin, lagian rumahku deket kok” tolaknya ramah.
“Nah justru deket, aku anterin aja, sayang uangnya, mending ditabung aja”
“Mmm, gimana ya?” dia masih berpikir.
“Ayo naik aja, ga baik lho nolak tawaran dari orang” serangan psikis aku mulai.
“Tapi gak baik juga lho godain pacar orang. hehe” balasnya.
‘Njiiirrrrr, mati kutu ni’ kataku dalam hati sambil menggaruk kepalaku,
ternyata dia sudah punya pacar. Serangan psikisku justru mengenai aku
sendiri
“Hahaha, kamu lucu deh kalo lagi salah tingkah gitu”
“Hehehe” senyumku yang aku yakin sama sekali tak tampak manis.
“Udah ah, ayo jalan, jadi ngga kamu anterin? Aku berubah pikiran lho ntar”
“Eh iya iya kak. Bentar aku ngambil motor dulu”
“Eh, gausah panggil kak ya, aku keliatan tua banget apa? huh” sungutnya kesal.
“Iya deh Tariiii, bentar ya , aku ngambil motor dulu sebentar ya.”
Kemacetan jalan menemaniku hari itu sewaktu mengantar Tari pulang,
maklum hari itu adalah jam pulang kantor. Setelah menembus berbagai
kemacetan kami berdua sampai di depan rumah Cut Tari,
“Masuk dulu nggak?” tanyanya mengundangku untuk mampir.
“Ah gak enak, ntar ketahuan pacarnya lagi. hehe”jawabku selebor.
“Yee, kalo takut ketauan mah dari tadi gausah nganterin, hehe.”
“Iya deh, gak baik nolak penwaran orang, hehehe”jawabku lalu mengikuti dia masuk
Saat di dalam rumah, aku terpana melihat berbagai pose dari tari yang di
bingkai apik di dalam figura-figura yang terletak di ruang tamu. Tapi
ada beberapa foto yang terlihat syur, yakni foto Cut Tari yang hanya
berbalut selembar kain berwarna merah, yang hanya mampu menutupi
payudara dan kewanitaannya.
“Aku sexy ya? Hahaha” suara Tari mengagetkanku. Dia telah berganti busana hanya lingerie hitam tipis yang ia kenakan.
“Iya, ni, bikin deg-deg serr. Hahaha”
“Hahaha, naik turun yaaa?”
‘Waduh frontal juga ini anak’ pikirku
“Ah enggak kok, soalnya kalo naik susah turunnya” balasku tak kalah vulgar.
“Haha, jadi ngaco nih ngomongnya”
“Iya nih, paraaah deh kalo ngomong sama kamu” jawabku menyalahkan dia.
“Lho kok aku? hahaha” sergah Tari tak mau disalahkan
Suasana sore itu mencair, tidak kaku sewaktu pertama kali ketemu tadi.
Ribuan kalimat meluncur santai dari kami berdua. Semua tentang foto,
scene, hunting tempat, pengalaman kami membawa suasana santai sore itu.
“Eh tar, biasanya sekali foto kaya gitu fee nya berapa si?” katanyaku sembari menunujuk salah satu foto syurnya.
“Kenapa si? Mau nge booking emang?”
“Ah engga, tanya aja, lagian ga punya duit buat bayarnya, hahaha.”
“Ya tergantung si, tergantung tempat, fotografer, lokasi take fotonya gitu”
“Ohhh.terus kalo booking caranya gimana?”
“Di Facebook, di Twitter juga ada contact person dari aku kok, itu
langsung nomerku, aku ga punya manajer atau agen. Ribet soalnya, kan ini
juga buat sambilan bukan pure terjun langsung ke fotografi”
“Oh gitu? Kapan kapan aku mau dong motretin kamu” ah kenapa kalimat itu meluncur langsung dari bibirku. ‘Sial’ batinku
“Hahahaha, gampanglah bisa diatur itu, tergantung fee nya.” candanya.
Setelah itu kami berbincang sebentar lalu berpamitan pulang. hari sudah,
kulihat jam tanganku menunjukkan 10.13 PM. Sesampainya di rumah aku
langsung membuka Facebook, kucari akun yang bernama TARI AMINAH ANASYA.
Tapi yang kutemukan hanyalah Fans Pagenya. Ah tak apalah yang penting
aku bisa tau nomer dan PIN nya.
Sesaat setelah aku menginvete PINnya, chat BBM ku berbunyi. ‘Ah Vita lagi’ pikirku
• PING !
• Udah pulang?
• Eh ini baru sampe rumah, baru aja mau ngabarin kamu
• Hmmmmmm alesan !
• Ngambek ni ?
• Tauk !
• Yaaaah jangan gitu dong.
• Kenapa si kamu akhir akhir ini beda?
• Beda gimana sih?
• Ya tau deh, kamu ngrasa ga?
• Aku si biasa aja ngrasanya sayaaang.
• DASAR GA PEKA !!!
• Kok jadi marah marah gitu sih kamu !!
• Sekarang kamu tuh berubah. Beda sama yg dulu !!
• Beda gimana? Jelasin dong! Marah marah terus sih !
• Kamu udah ga sayang sama aku? Bosen? Jenuh?
Ha? Kok dia bisa tau ya? masa bodo lah. Lama tidak aku baca chat
BBM terakhirnya, lalu Chacha menghujani BBMku dengan ribuan PING ! asli
sumpah nyebelin banget ni bocah, bawel banget. Tak lama, ada bunyi BBM lagi. Kulihat sepintas, ternyata dari Tari.
• Woy, adek kelas culun ! hahaha
• Hahaha, lagi apa kak?
• Lagi bete nunggu job, lagi kere banget nih aku.
• Sini tak kasih job. Wkwkwkwk
• Job apaaaaaaaaa? Feenya bagus ga? Wkwkwk
• Kamu jadi model aku ajaaaa, tapi feenya ga banyak
• Hahahaha, fotografer ga modaaaaaal …….
• Hahahaha, kantong pelajar ni soalnya.
• Yaudah besok aku kosong kok
• Ha? Serius ni? mau foto di mana?
• Di rumahku aja, emang kamu punya studio? Wkwkwkw
• Hahahaha, enggak sih. Jam berapa besok?
• Pagian aja, kan besok week end.
• Oke jam 10 sampe rumahmu Tar.
• Sipppp, bawa VASELIN yaaa?
• Ha? buat apa ?
• Udah bawa aja, sampai ketemu besok. Daaaaaaaahhh
• Malem cantik. Hahahahahaha
• Malem juga sayaaaaaang
Dia memanggilku sayang? disertai emoticon cium lagi? Apa dia salah
kirim? Beribu pertanyaan menggantung di diriku malam ini, membuatku
terlalu sulit memejamkan mata. Malam sudah terlalu malam pagi tetapi
terlalu pagi. Aku terus berusaha supaya mataku terlelap agar dapat
bangun pagi, menepati janji pada Tari. Jam 07.45 AM aku baru memicingkan sebelah mata sembari menguap. Aku baru
bangun, teringat janji dengan Tari, aku langsung bergegas mandi.
Kusiapkan semua peralatan tempurku. Kamera, lighting seperlunya. Aku
hanya punya beberapa lampu, itu juga jarang aku gunakan karena aku lebih
suka yang natural tak lupa kubawa vaselin pesanan Cut Tari. ‘Pesanan
yang aneh’ batinku.
Kupanaskan LX 150 kesayanganku, setelah semua siap, ku kendarai skuter
kesayanganku menembus jalanan kota. Lihat kanan kiri, siapa tau sambil
berkendara nemuin tempat hunting yang pas, pikirku. Sesampainya di depan
rumah Cut Tari, aku disambut dia yang sudah menunggu di kursi depan.
“Lamaaaaaaaak. huh” sungutnya sedikit kesal.
“Tadi macet Tar, sorry deh. hehehe” alibiku
“Ayo udah masuk kedalem, udah bawa vaselin kan?”
“Udah, emang buat apa si?” tanyaku lagi.
“Sini mana vaselinnya, kamu tunggu di ruang tengah aja, kosong kok gak ada orang lagi pada pergi”
sambil meminta vaselin dari tanganku.
“Yaudah aku siap siapin peralatanku dulu yaa.”
“Aku juga mau ganti pakaian dulu”
Saat semua peralatanku udah lengkap, aku di kejutkan oleh sesosok
perempuan cantik nan eksotik, turun dari tangga mengenakan lingerie
transparan, sambil membawa selembar kain tipis berwarna hitam.
Belum lepas rasa terpana ku tiba tiba dia menganggalkan semua pakaiannya
kurang dari 2 meter di hadapanku. Sekarang terpampanglah suatu
mahakarya luar biasa dari sang pencipta. Suatu bidadari nyata yang turun
di dunia fana.
“Heyyy, bengong aja, sini olesin veselinnya ke tubuhku.” Perintah Cut Tari.
“Haa? Buat apa?” tanyaku bego.
“Ya biar keliatan eksotis aja. hehehe”
“Gak papa ni?”
“Ya gak papa, mana bisa aku ngolesin seluruh punggungku sendiri,”
“Mmm, gimana ya?” aku sedikit ragu ragu.
“Ga pernah ngambil foto nude ya?” tanyanya.
“Belum eh,”
“Hahahaha, yaudah, sini aku ajarin, jangan tegang gitu dong, rileks boy”
Bagaimana bisa rileks kalo melihat Cut Tari telanjang,
Setan pun akan lupa menggoda manusia karena dia sendiri tergoda tubuh sintal sang bidadari
“Sebentar, ya” katanya sambil melepaskan celana dalamnya.
Murni sekarang tidak ada satupun yang melekat pada tubuh Cut Tari. Aku
berusaha tenang mengolesakan vaselin ke tubuhnya, sedikit usapan di
bagian punggung mendorongku untuk mengusapanya ke area yang lebih luas,
turun ke bawah ke pinggul, lalu ke pantat. Putih mulus dan sedikit
berminyak menambah aura seks yang terpancar dari dirinya. Aku mencoba
memberanikan diri mengusap ke atas lagi, tapi kali ini pinggul bagian
samping yang ku usap. Terus naik ke atas, sedikit menyenggol payudara,
aku berhenti di situ, mulai mengusap usap bagian tersebut terus lebih
lama.
“Pindah dong kok disitu terus, ntar malah ga jadi sesi pemotretan nih, hihi” membuyarkan konsentrasiku
“Hehe, iya sorry”
Kulanjutkan dengan bagian bawah, tubuhnya, turun ke bawah ke pantat,
srrrrt tak sengaja tanganku meluncur ke bawah belahan pantatnya, karena
licinnya vaselin.
“Aahhhh,” dia merintih.
Dia tidak menolak, ku teruskan memberikan vaselin ke ‘sunhole’ nya.
Kunikmati setiap usapan yang kuberikan, terus semakin terus ke bawah
semakin mendekati lubang vaginanya, di tengah licinnya vaselin aku tau
persis kalo vaginanya sudah basah.
Tiba tiba dia membalik tubuhnya langsung menghadapku.
“Nakal,” ucapnya hanya satu kata, seketika itu dia langsung merangkulku dan langsung menciumku.
“Cup.. cup.. cup..” kecupan-kecupan kecil di daratkannya ke bibir ini.
Tangan yang tadinya merangkul dan memeluk kepalaku sekarang meraba dan
melucuti pakaianku, tanggalah semua kain yang kukenakan.
Aku juga tak mau kalah agresif, kubalas kecupan dengan lumatan, rabaan
dengan remasan. Kususuri tiap inci lekuk wajah sang bidadari dengan
cumbuan, turun ke leher dengan jilatan lembut, turun lagi ke dada dengan
kecupan kecil, sampai akhirnya kecupanku terhenti di belahan payudara,
di gantikan gigitan-gigitan kecil, serta lumatan yang lambat lain
mengarah ke putingnya.
Dia mendongak ke atas, sambil terus meremas dan mengusap kepalaku,
sesekali pandangannya turun ke bawah, menerka nerka apa yang akan ku
perbuat pada tubuhnya. Tangan kiriku meremas payudaranya, sambil melumat
puting kirinya, tangan ku yang lain mengusap punggungnya, berusaha
memberikan rasa nyaman padanya.
“Vinooooo” desahnya memanggil namaku. Tak kujawab karena kuanggap itu di luar batas kesadarannya.
Setelah itu kududukkan dia di sofa merah berbahan fabric, lalu ku ulangi
lagi adegan melumat payudaranya, kali ini tanganku menyibakkan kedua
kaki Tari, jemariku mulai menjalankan perannya. Berimprovisasi,
mengeksplorasi setiap titik di vaginanya. Tiba tiba Tari menuntun
tanganku yang satunya, memegang jari tengahku dan mengulumnya. Entah apa
maksudnya aku tak tau, yang pasti aku menganggapnya sebagai seorang
dirijen. Setiap jari tengahku masuk ke mulutnya, aku sodokan jari tangan
kananku ke vaginanya.
Berulang kali tusukan tusukan disertai usapan di klitorisnya membuat
tari memejamkan matanya dan semakin mendongakkan kepalanya. Semakin dia
mencoba bartahan, semakin aku menambah cepat rojokanku, sampai akhirnya
“heeeeeeeekkkkk mmmmhhhhh aaaahhhhh aaahhhhh” kurasakan cairan hangat
membasahi jariku dan turun ke telapak tanganku. Tari mengekspresikannya
dengan binal dan liar.
Setelah Tari tersadar akan orgasme yang baru saja menghampirinya, dia
menyuruhku untuk berdiri. Kontol yang dari tadi tegang langsung
menantang di hadapannya, tak usah memandang terlalu lama tari sadar akan
tugasnya, hak dan kewajiban berjalan seimbang, kini giliran aku
mendapat hak-ku.
Di kocoknya beberapa kali melalui jari-jari lentiknya, sebelum aku
tersadar kalo penisku sudah sedikit masuk ke rongga mulutnya, bak diva
yang sedang menyanyi memainkan microphone mengatur vibrasi nada, seperti
itulah gambaran oral seks yang kudapat dari cut tari, berkali kali
cairan pre cum keluar bercampur ludahnya membasahi sudut bibirnya.
“Hhmmmmmm….” aku hanya bisa bergumam, bergetar.
Kutuntun Cut Tari untuk menungging, membelakangiku, tangannya memegang
sandaran punggung sofa, lalu kaki kanannya kuangkat di tepian sofa,
kuraba sebentar vaginanya untuk sekedar meratakan vaselin yang ada di
pahanya ke selangkangan. Lalu kutuntun pelan, penisku menuju lubang
dimana Vino Jr, mendapatkan tempatnya, sentuh, tekan, dorong, dan
“Hhheeeeekkkk” jerit Cut Tari tertahan.
Kudiamkan sejenak untuk membiarkan penisku beradaptasi, tapi serangan
justru kuterima dari vagina Cut Tari yang mengempot, memijat, dan
meremas penisku. Tak bisa tinggal diam langsung kutarik dan kusodok
lagi, sampai berulang ulang.
“Enaaaaaakk sayaaaaang” teriak Cut Tari.
“Iyaaa teruuusss, Vino, enaaaaaak,” lanjutnya seperti kesetanan.
“Ssshhhhhh, ahhh ahhh ahhh…” ku pompa terus, tanpa perduli pada Cut
tari yang terus meracau, tangannya semakin mencengkeram erat sandaran
sofa, sambil menggigit bibir bawahnya dia memejamkan mata.
“A.. aku pengen keluar Saaaaaaa…..” jerit Tari tertahan.
“Aaaahhhhhh, Vinoooo….” beberapa kali Tari mengejang membasahi penisku dengan cairan cintanya, lalu rubuh di sofa.
Aku kasihan melihat Cut Tari yang sudah 2 x mengalami orgasme, aku tidak
tega mengeksekusi Tari yang sudah lelah, maka ku kocok penisku sendiri
di depan muka Cut Tari sambil meraba-raba payudaranya, belum sampai
semenit aku melakukan itu, bidadari binal menghentikan aktivitasku
meloco.
Didudukannya aku di sofanya, lalu gantian dia yang jongkok menghampiri
penisku, di kocoknya sebentar, lalu diarahkannya ke lubang vagi,, bukan!
itu bukan lubang vagina, sembari mengarahkan penisku cut Tari mengambil
sisa-sisa vaselin yang ada di sekitar pantatnya untuk di ratakan di
sekitar anusnya.
“Iiiisssshhhh … !!! ” desahnya seiring batang kejantananku yang mulai menyeruak dinding-dinding liang anus.
” Oouuuccchhh .. Tariii .. !! ” ku panggil namanya dalam cengkeraman kenikmatan .
Pelan tetapi pasti Cut Tari meliuk-liukan tubuhnya serta menaik turunkan
pantatnya. Semakin lama jepitan dinding anusnya semakin kuat, tangannya
memegang erat pundakku, sementara aku memegang pingulnya untuk menaik
turunkan Cut Tari.
“Aduuuhhh .. uuuuuuuhhhhhhhhhh ” aku mendesah tak kuasa. Ku semprotkan
spermaku pada lubang yang seharusnya tabu untuk disenggamai.
Beberapa detik aku mengejang, aku disadarkan dengan ciuman lembut Cut Tari.
“Udah sayaaaang? Tuntas kan? Hehe” canda Cut Tari, di sertai kerlingan
nakal. Lalu kami berdua beristirahat sejenak di sofa cinta sebelum
mengenakan pakaian kami kembali .
Setelah “sesi pemotretan” berlangsung aku beristirahat sebentar di ruang
tengahnya, ini merupakan sesi pemotretan terlelah sepanjang yang pernah
aku jalani.
Aku yakin bahwa Jaka Tarub pun menyesal tidak melihat bidadari di danau kala itu
Hari-hari setelah itu lebih banyak aku lalui bersama dengan Tari, BBMan,
telfonan, chat, murni waktuku buat dia. Dia kuanggap seperti kekasih
menggantika posisi Vita. Bahkan semenjak pertengkaran dengan Vita waktu
itu, aku memutuskan break untuk saling introspeksi, alibiku. Kami tidak
saling menghubungi. Entah bagaimana keadaanya aku pun sudah tak mau tau.
Pagi itu aku di telfon Cut Tari yang akan melakukan sesi pemotretan di
sekitar air terjun di kaki gunung. Aku diminta untuk menemaninya, tanpa
pikir panjang aku langsung mengiyakannya. Dengan seragam sekolah aku
langsung menuju rumahnya.
Sesampainya di rumahnya aku langsung disambut senyumnya yang menawan.
“Ayo berangkat sekarang” ajaknya.
“Ayo, aku ganti baju dulu tapi, masa iya mau pake seragam. heheehe”
“Yaudah cepetan sana, aku tunggu di mobil yaa,” jawab Cut Tari sambil berlalu ke arah mobil.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda bersenda gurau, membicarakan
nanti bagaimana proses take fotonya. Sungguh hari yang indah, pikirku.
Setelah mencari tempat parkir, kami segera menaiki gunung menuju air
terjun yang dijanjikan untuk proses pengambilan foto. Disana kami sudah
ditunggu oleh para fotografer yang siap dengan bidikan bidikan
kameranya.
“Huft, capek juga yaa No” keluh Cut Tari.
“Iya lumayan pegel nih,”jawabku sambil mengurut pahaku.
“Dimana si orangnya?” lanjutku bertanya.
“Kayanya disana deh, yang ada orang ngegerombol itu,” jawab Cut Tari sambil menunjuk
segerombolan orang.
“Yuk kesana aja”
Setelah bertemu dengan para fotografer yang rata-rata sudah setengah
baya, kami melakukan briefing sejenak. Di situ aku diperkenalkan sebagai
manajer yang baru dari Cut Tari. Setelah briefing, kami pun bersiap
siap memulai take foto.
Tiba-tiba Cut Tari melepaskan seluruh pakaiannya, dan diganti dengan
selembar kain batik, yang dibawa oleh crew fotografer tersebut. Dia
membuka pakaiannya tepat dihadapan kami semua. Aku bisa pastikan semua
yang hadir di situ menahan nafas, menunggu detak jantungnya berdetak
kembali setelah sesaat berhenti.
“Kamu bisa pose di bawah air terjun gak?” minta salah seorang fotografer senior yang kuketahui namanya Alex.
Seketika itu Tari menuju ke bawah air terjun, melakukan pose berdecak
pinggang, hanya dengan ditutupi selembar selendang batik tentu saja
tidak mampu menyembunyikan sensualitas tubuh seksinya. Apalagi kain itu
hanya disangkutkan ke pundak dan sisanya tergerai ke bawah. Tubuhnya
yang basah tercetak jelas di balik kain batik tipis. Entah apa yang ada
dipikiran para fotografer tersebut, apakah ini hanya estetika semata
atau pesona dari hawa yang menciptakan gelora birahi para pria.
Setelah 2 jam take foto, kami break sebentar, sedangkan Tari mengambil
handuk sambil mengenakan pakaiannya kembali. Setelah berbincang santai
beberapa saat, aku dan Tari pamit pulang kepada beliau-beliau senior
fotografer. Katanya mereka ingin bersantai dulu di situ sambil menikmati
air terjun. Jalan menuju pulang terasa lebih cepat karena selain
turunan, perjalanan kami diselingi adegan cubit-cubitan dan
kejar-kejaran seperti film Bollywood pada umumnya. Tapi apakah
perjalanan kami akan sebahagia ini nantinya ? entahlah.
“Ah capek banget, ya No” keluh cut Tari
“Iya, untung udah sampe mobil, yuk cabut, cari makan, dari pagi belum sarapan ni”
“Haha, perut melulu diurusin. Di suruh sekolah malah cabut”
“Lah kan yang ngajakin kesini siapa coba?” jawabku enteng
“Hahaha, eh tadi poseku bagus ga?” katanya sambil melirik genit padaku
“Mmm, biasa si” kataku berkilah.
“Yakin tuuuuuuh?”goda Cut Tari.
“Haha, iya iya sekseh abis pokoknya deh, sampe nasdem, panas adem. Hahahaha”
“Apanya nih yang panas adem? haha”
“Ya semuanya, hahaha. ”
Tiba tiba pandangannya berubah aneh kepadaku, aku tau pandangan seperti
apa ini, pandangan malaikat putih yang berubah menjadi iblis betina
disaat semuanya terasuki nafsu. Entah siapa yang mulai, tiba tiba wajah
kami mulai mendekat, bibir kami mulai berpagut, lidah bergerak
menjelajahi setiap sudut rongga lawan jenis. “Mmhhhh”
Saat kecupan dan pagutan saling bergantian menjalani perannya, tanganku
pun menuntut untuk bergerilya menyusuri tubuh Tari, udara dingin semakin
menambah intimnya percumbuan kita.
“Pindah jok ke belakang” pinta Cut Tari cepat begitu melihat situasi tak tepat di jok depan.
“Mmmhhh, crrpppppppp” lidah kami saling beradu.
Sandaran jok belakang, aku rebahkan agar lebih lega dan lebar, dengan
cepat dan sigap aku melucuti pakaian yang dikenakan Cut Tari begitupun
Cut Tari tak kalah gesit, sentuhan kulit yang diterpa dinginnya udara
pegunungan membuat bulu kuduk merinding.
Tinggal terbalut celana dalam masing masing, kami terdiam sejenak,
mengkhatamkan lekuk tubuh masing-masing. Beberapa detik kemudian bibir
kami kembali bertemu, beradu.
Diatas jok belakang kami berdua bertumpu pada lutut, setengah berdiri,
kami bercumbu, merasakan gairah-gairah birahi yang akan terluapkan
sesaat lagi, lidah kami saling membelit, aku mengusap rambutnya, dia
memeluk punggungku, lidahku turun menyusuri leher jenjang yang dihiasi
kalung emas. Tangan kananku memegang pinggulnya, sedang tangan kiriku
mengusap punggung mulusnya, merayap turun menyelusup kedalam celana
dalamnya meraba pantatnya, mengelus, meremas, berusaha melolosi satu
satunya penutup di tubuhnya.
Tak berapa lama tubuh polosnya sudah menantang di depanku. Aku
melepaskan celana dalam yang masih kupakai. Kami berpelukan sesaat,
tangannya mulai mencari, dan meraba letak penisku. Dikocoknya sebentar.
“Aduh, perih sayang,” protesku.
Dia hanya tersenyum, lalu dia mengecup dadaku, turun ke perut dan
langsung melumat penisku. geli ketika kepala penisku menyerempet gigi
kecil Cut Tari, dan sensasi geli tersebut membuatku menahan sesuatu yang
akan keluar.
“Bentar, aku mau keluar ni,” cegahku meneruskan blowjobnya.
“Terus?’
“69?”
“Yuk”
Kami berganti gaya menjadi 69, vagina yang harum yang jarang ditumbuhi
rambut, menggoda lidahku untuk mengoyaknya. Kujilati vaginanya, bahkan
sesekali kugigit kecil klitorisnya.
“Aaaahhh, udah sayaaaaang.” Cut Tari memohon ampun, ketika lidah torpedo yang hanya mitos di
American pie ternyata benar adanya.
“Aku keluaaaaaarrr. Hhheeeeeeeehhh,” seketika itu keluar cairan basah
dari vaginanya, di teruskan dengusan nafas yang tersengal-tersengal.
Lalu aku memposikan badan sejajar dengannya. Mencium keningnya untuk
sedikit menenangkannya lalu kucium bibirnya. Dia menyambutnya dengan
sedikit nafas yang masih tak beraturan.
Pelan-pelan kubuka kedua kakinya, kukangkangkan, lalu kuselipkan pahaku
diantara kedua kakinya, kusisipkan penisku ke celah vaginanya.
“Ehhhh” kata-katanya tertahan ketika kubuka celah vaginanya dengan penisku.
“Lanjut sayang?” godaku.
“Heem terserah” jawabnya sambil mendesah, lalu Cut Tari memejamkan matanya menikmati usaha penetrasiku.
Lalu aku telungkup diatas tubuh Cut Tari, sempitnya ruang gerak tak
membatasi kenikmatan yang akan kita peroleh, sodokan demi sodokan, suara
selangkangan yang bertemu membiaskan suara radio yang ada di mobil.
Suara erangan dan desahan menambah erotisme perbuatan yang kami lakukan.
“Plak… plak….. plak….” suara paha yang bertemu seakan memicu syahwat yang menggelora.
“Aku pengen keluaaaar saaaaayaaaaanggg…” desahku disebelah telinga Cut Tari.
“Iyaaaa, barengan ajaaahhh,” jawab Cut Tari dengan wajah binalnya.
“Aku keluaaar sekaraaaangggg” aku menyemprotkan spermaku ke rahim Cut Tari, hangat, nikmat.
“Eeeeehhhhhh hheeeemmmmm” aku merasakan hal yang sama pada diri Cut Tari, dia juga telah memperoleh kenikmatannya.
Sesaat setelah itu aku melepaskan penisku dari vagina Cut Tari, aku
mengambil tissue yang ada di dashboard mobil lalu membersihkan penisku
dari lelehan sperma kami berdua. Lalu Cut Tari juga mengambil beberapa
lembar tissue untuk membersihkan vaginanya.
Kami berdua duduk bersebelahan di jok mobil dengan posisi masih
telanjang. Melepaskan sisa-sisa orgasme yang mampir di syahwat kami.
“Masih nasdem?” tanya Cut Tari menggoda.
“Tinggal nunggu ademnya ni,” jawabku sambil mencubit pipinya.
“Mau di panasin lagi? Haha.” goda Cut Tari dengan muka nakal.
“Haha, jangan sekarang deh, next time aja”
“Iya sayaaaang, yuk jalan balik yuk, bajunya dipake dulu lho” ajak Cut Tari
“Sip, lets go honey”
Lalu kami beranjak balik, dan sejak itu kejadian itu intensitas ‘sesi
pemotretan’ku bertambah dengan Cut Tari, berbagai gaya kita coba, kita
lakukan. Dasar ‘Bidadari Binal’ batinku.

PELANGI ATAU BIDADARI

Malam itu aku mengajak Tari makan ke McD, sore hari tadi aku sudah
janjian dengan Tari akan menjemputnya jam 7 malam, ‘biar tidak terlalu
malam,’ pikirku.
“Tinnn… tiiinnnnn… tiiinnnnn….’ bunyi klaksonku sewaktu sampai dirumah Tari.
“Ckckck, geulis pisan atuh neng. Hahaha” kataku ketika melihat Tari keluar rumah dengan anggun, dengan rambutnya yang tergerai.
“Ayuuuuk, bengong aja, makan dimana nih?”tanyanya,
“Udah ayo ikut aja deh sayaaang”
“Oke sayaaaaaaang, ayo meluncuuur, hahaha” jawabnya seru.
Setelah Tari naik membonceng dan memelukku, ku starter motorku, ku pacu
menuju McD, dan kebetulan McD itu berada di dekat SMA. Ku belah angin
malam. Kususuri jalanan kota. Sengaja malam itu aku memilih rute memutar
yang agak jauh, supaya malam ini bisa kulewati lebih lama bersamanya.
“Kita mau makan dimana si? Kok malah muter-muter? Laper Vinoooo. Hahahaha” Cut Tari sudah teriak-teriak kesetanan.
“Ke McD yang deket sekolah aja ya? Tinggal perempatan depan trus belok kanan. Bentar lagi kok.”
“Yaudah buruaaan, laper nih,” mendengar perintahnya ku kebut langsung laju motorku.
“Yaaah lampu merah deh, kamu si ga mau buru-buru” ketika lampu merah menyala pas di perempatan.
“Lah kan tadi aku juga udah ngebut sekuat tenaga cantik, hahaha” alibiku.
“Tenagamu ngebut di jalan tak sekuat tenagamu ngepot di ranjang, hahahaha” ejek tari dengan senyumnya nakal.
Detik di lampu merah masih menujukan angka 76 detik lagi. Lama juga
pikirku. Sambil ngobrol dan tertawa, sesekali Tari memelukku manja.
“Dingin ya sayaaaaang? Sini aku peluk, kacian si dedeeeeek unyu, pasti
di bawah juga kedinginan, hahaha” canda Tari sambil meremas juniorku.
“Hahaha. Kok dedeknya yang di perhatiin? Akunya engga” protesku.
Kemudian ada innova hitam berhenti persis di sebelahku, aku tak
menghirauknnya, toh pikirku mereka juga sama, sedang menunggu lampu
merah yang masih lama. Akan tetapi tiba-tiba kaca mobil depan terbuka.
Lalu terdengar suara cewek di dalem mobil memanggilku lirih.
“Vino” Deg! Ternyata di dalam ada Vita bersama keluarganya. Aku, Tari,
dan Vita saling bertatap muka. Ada yang aneh, seolah dunia serasa
berhenti sesaat.
“Tiiiinnnnn ttiiiiinnnnnnnn tiiinnnnn” ribuan klakson dari kendaraan
belakang menyuruhku untuk jalan, aku tersadar lampu menyala hijau.
Lalu ku tarik gas motorku, menerobos cahaya kuning lampu jalanan,
mengarahkan skutik kesayanganku ke McD. Sudah terlalu lelah otak ini
untuk di ajak berpikir tentang kejadian barusan.
Sesampainya di McD aku menyuruh Tari untuk mengambil tempat duduk, sementara aku memesan makanan di kasir
“Mbak pesen McChicken + Large Fries + Iced Coffe, 2 ya?” pesanku pada kasir.
Setelah selesai membayar makanan, kuhampiri Tari yang asyik memainkan
BBnya, ku ajak dia makan, entah pada suapan keberapa tiba tiba, Grrrr
grrr grrrr, BB ku bergetar, ku buka, siapa tau ada hal penting, dan
benar .
From : Sayang
Isi : cukup segini aja hubungan kita, ga ada yang perlu di jelasin,
semua udah jelas. Aku udah tau semuanya, aku juga punya hak buat ngambil
keputusan.
Tak kubalas sms itu. Ahh terus terang ada rasa sedih dan kecewa di diriku saat ini. tapi aku
berusaha tenang karena di depanku. Ada bidadari cantik yang sedang asyik
menikmati frenc fries, lalu menyeruput iced coffe. Aku berusaha
menyembunyikan kekecewaanku dengan mebuka pembicaraan santai dengan
Tari.
“Doyan apa laper? cepet amat makannya, hahaha” aku membuka pembicaraan
“Iya ni, laper banget habisnya kamu sih gak langsung ngajakin makan, pake muter-muter dulu. hahaha”
“Emang sengaja, biar lama. Biar bisa nikmatin malam sama kamu. Weeek. hahaha”
“Ah bisa aja kamu ni, eh tadi yang siapa manggil kamu di mobil.”
“Yang mana ?” tanyaku pura-pura bego.
“Yang pas kita berhenti di perempatan tuh.”
“Oohhh, mantan” jawabku singkat
“Cantik juga ya? Emang kenapa putusnya?”
“Tauk, dia yang mutusin, udah bosen kali sama aku. Udah ah ga usah di bahas lagi, males.”
“Iya iya, sewot amat pak, hahaha”
“Iya lah, kan sekarang aku lagi sama kamu” godaku.
“Eh aku mau ngomong” kata Tari setelah menyeruput abis iced coffe
“Yaudah ngomong aja, serius emang?”
“Bisa dibilang begitu sih, hehehe,” mukanya menunjukkan ekspresi serius yang dipaksakan.
“Serius kok sambil cengengesan, wuuuu”protesku.
Tari mengambil nafas sejenak.
“Besok-besok kita bisa kaya gini lagi nggak ya?” pertanyaan yang penuh teka teki.
“Lho memangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Bulan depan aku udah mau tunangan sama pacarku. Taun depan dia udah kerja di Kalimantan, dan aku ikut sama dia di sana.”
Bayangkan, kepingan-kepingan cinta yang kususun rapi dengan pelangi dan bidadari rusak seketika di hari yang sama.
“Kamu ga apa-apa kan ?” pertanyaanya membuyarkan lamunanku.
“Ah enggak kok, gak apa-apa. hehe” senyum getir mewarnai bibirku.
“Udah yuk cuz pulang, jam 9 nih, besok mau hunting gaun soalnya” ajak Tari.
“Yaudah yuk” jawabku lemas.
Aku melajukan langsung menuju rumah tari. Tak ada lagi kata jalan-jalan
malam yang indah, tak ada lagi canda tawa yang renyah. Semuanya hancur
sudah.
Semenjak saat itu hubunganku dan Tari berangsur menjauh, BBM dan SMS Cut
Tari jarang kubalas, mungkin dia tau aku menyimpan kecewa terhadapnya.
Terserahlah saat ini hatiku sedang galau tak karuan. Hari berganti hari
sampai Agustus pun habis masanya.


When you love someone


Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love


Don’t ever let it go


Or you will lose your chance


To make your dreams come true…
I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized


I was looking for a time to get closer at least to say… “hello”


And I can’t stand to wait your love is coming to my life


When you love someone


Just be brave to say that you want him to be with you


When you hold your love


Don’t ever let it go


Or you will loose your chance


To make your dreams come true…
6 September 2012 Di sekolah aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa, sedikit banyak
sudah bisa move on dari mereka berdua. Tapi tidak sepenuhnya melupakan
mereka. Mereka yang telah mengisi hari hariku 5 bulan terakhir, Pevita
Pearce dan Cut Tari.
‘teeeeeeeeett’. Bel istirahat pun berbunyi. Aku bergegas ke kantin, 5
jam aku mendengar ocehan dari guru. Tadi sewaktu istirahat pertama aku
sibuk nyontek PR temanku yang belum sempat aku kerjakan semalam.
“Budheeeeee, nasi soto sama es teh satu” pesanku pada Budhe yang masih
setia berjualan di sini, katanya Budhe ini sudah lama berjualan di sini,
bahkan guru-guru yang masih muda juga cerita, sewaktu beliau masih
sekolah, Budhe sudah berjualan nasi soto di sini.
“Sendirian kak?” sapa seorang gadis cantik yang tiba tiba duduk persis di depanku.
“Eh i.. iyaaa….” balasku kepada gadis itu yang ternyata Vita.
Amboyyyyyy, semakin cantik saja Vita ini pikirku. Jujur saat itu aku
amat menyesal kenapa dulu aku mentelantarkan Vita, bahkan menduakan
Vita. Tapi mungkin hubungan yang rusak bisa diperbaiki kembali, pikirku.
Sejak saaat itu aku mencoba dekat dengan Vita lagi, SMSan, BBMan. Kontak
HP yang sudah kuganti dengan nama ‘Pevita’, kuubah lagi dengan nama
‘Sayang’. Masa masa ini mengingatkanku pada saat PDKT dengan Vita dulu,
serasa indah, sempurna.
15 September 2012
Sudah sekitar 1 minggu aku berusaha dekat dengan Vita kembali, senyumnya
mengingatkanku pada Vita yang pertama kali aku kenal pada saat
memamerkan hasil fotoku di mading sekolah. Aku tak dapat memungkiri rasa
sayangku masih teramat sangat kepada Vita meski aku sudah sedikit
banyak melupakan berbagai kenangan bersamanya.
Sore itu , 15 September 2012, aku mencoba mengulangi, mencoba hubunganku
kembali dengan Vita. Setelah pulang sekolah aku mengirim SMS ke dia
seperti hari-hari sebelumnya, bisa dikatakan sebagai pendekatan ulang.
Setelah berbasa basi melalui SMS dengan menanyai lagi apa? Sudah makan?
Dan sebagainya, aku mengutarakan maksud dan isi hatiku melalui SMS
to : Sayang isi : aku sayang banget sama kamu, sekarang dan nanti. Love you vit

grrr grrr grrr. Hp ku bergetar
from : Sayang isi : iya aku juga sayang sama kamu Vino .

kubalas lagi
to : Sayang isi : mau enggak kamu balikan lagi sama aku? Aku minta maaf kejadian tempo hari, aku janji aku ga bakal ngulangin itu lagi.

1 menit, 2 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit. Dan grr grr grr
From : Sayang Isi : maaf Vino, tapi aku ga bisa kaya dulu lagi. Aku masih kecewa sama
kamu, maaf yaaa. Tapi aku masih sayang sama kamu kok tapi hanya sebagai
kakak.

Harapan yang ku gantungkan setinggi langit kepada Vita serasa
dihempaskan kencang ke tanah. Aku serasa orang paling bodoh , paling
menyesal di dunia. Bodoh karena aku tidak memikirkan perasaan Vita
kepadaku dan menyesal karena menyia-nyiakan pelangi yang dulu sudah
depan mata.

Postingan populer dari blog ini

Foto Bugi : Abg Smp Ngentot di Kolam Renang

ABG Lagi Keenakan Ngocok Memeknya Sendiri

Foto Ngentot PSK dari Jepang Putih Mulus Dan Seksi

Kumpulan Artikel Dewasa Cerita Dewasa , Foto Hot , Foto Bugil , Bispak Sange , Memek ABG , Toket Tante Girang , Cewek Cantik Memek sempit, Foto Ngentot PSK dari Jepang Putih Mulus Dan Seksi - Foto Bugil Wanita, abg bugil, toket gede, toket abg montok, toket tante, memek abg, memek tante, smp bugil, sma bugil, Foto memek, memek perawan, janda bugil, abg sexsy, tante girang.